Dari aksi ke kata: Membaca untuk membela

Teluk Naga

Indonesia Pulang dari Pengasingan

Category

Subjudul: Bagaimana Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Membunuh Kediktatoran

Bagaimana sebuah karya sastra mampu menantang kekuasaan yang represif? Mengapa novel-novel Pramoedya Ananta Toer tetap hidup di tengah pelarangan dan sensor selama puluhan tahun?

Dalam Indonesia Pulang dari Pengasingan, Max Lane mengisahkan perjalanan luar biasa Tetralogi Pulau Buru—Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca—dari lahir di Pulau Buru hingga menjadi karya yang mengubah cara generasi Indonesia memahami sejarah, kolonialisme, nasionalisme, dan kebebasan.

Berangkat dari pengalaman pribadinya sebagai penerjemah karya-karya Pramoedya ke dalam bahasa Inggris, Max Lane menunjukkan bagaimana sastra dapat melampaui batas bahasa dan negara. Ia mengungkap bagaimana rezim Orde Baru berusaha membungkam pemikiran Pramoedya melalui pelarangan buku, namun justru gagal menghentikan penyebaran gagasan-gagasannya yang terus menginspirasi pembaca di Indonesia maupun dunia.

Lebih dari sekadar kajian sastra, buku ini merupakan refleksi tentang hubungan antara sastra, politik, dan perjuangan demokrasi. Max Lane memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah karya tidak hanya terletak pada nilai estetikanya, tetapi juga pada kemampuannya membentuk kesadaran kritis dan menjadi bagian dari perjuangan melawan otoritarianisme.

Share

Deskripsi

Penulis: Max Lane

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Indonesia Pulang dari Pengasingan”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *